Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Ridho Ficardo Hadapi Tantangan Berat Pertahankan Kekuasaannya di Lampung
HeadlinePolitik

Ridho Ficardo Hadapi Tantangan Berat Pertahankan Kekuasaannya di Lampung

JAKARTA – Mempertahankan lebih berat daripada merebut, itulah slogan umum dalam berkompetisi. Begitu pun dalam persaingan politik yang akan dijalani oleh Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo melawan tiga penantangnya dalam pemilihan kepala daerah 2018 ini.

Apalagi berdasarkan survei oleh Rakata Institute Desember 2017 menyebut, elektabilitas Ridho ada di posisi terakhir dibanding tiga pesaingnya. Ridho hanya meraih tingkat elektabilitas 12 persen, di bawah Mustafa 18,25 persen, Herman HN 17,75 persen, dan Arinal Junaidi 14,75 persen.

Ridho yang kembali berpasangan dengan wakilnya, Bachtiar Basri, setidaknya memiliki tiga tantangan besar yang harus dia lampaui untuk bisa memenangi persaingan dengan lawannya. Tiga tantangan itu adalah basis identitas, kinerja dan prestasi, serta logistik.

Basis identitas ini adalah menyangkut basis pemilih. Lampung adalah daerah heterogen di mana suku Jawa mendominasi jumlah penduduk di sana. Menurut guru besar Universitas Lampung, Hilman Hadikusuma dalam makalahnya Padangan Pemangku Kebudayaan Daerah/Suku Bangsa Lampung tentang Kebudayaan Lampung, bahwa suku Jawa mencapai 60 persen, suku Lampung 11,9 persen, suku Sunda dan Banten 11,2 persen, suku Semendo 3,5 persen, dan suku lainnya 11,3 persen.

Pada pemilihan kepala daerah 2018 ini, ada empat calon gubernur yang akan bersaing. Mereka adalah Ridho-Bachtiar Basri, Herman HN-Sutono, Arinal Junaidi-Chusnunia Chalim, dan Mustafa-Ahmad Jajuli. Dari empat calon ini, hanya pasangan Herman-Sutono yang memiliki aroma Jawa. Baik dari sisi nama wakilnya, Sutono maupun partai pengusungnya, PDI Perjuangan. PDI Perjuangan adalah partai yang memiliki basis kuat di kalangan suku Jawa tradisional-nasionalis.

Dengan peta seperti ini, Ridho harus berebut pemilih tradisional suku Jawa dengan dua pasang calon lainnya, Arinal Junaidi-Chusnunia Chalim dan Mustafa-Ahmad Jajuli. Di sinilah, Ridho harus membuat jaringan relawan yang bergerak di luar struktur partai. Relawan inil bergerak menggunakan pendekatan budaya yang masih beraroma kental di kalangan orang Jawa, seperti wayang kulit.

Berbeda halnya dengan Herman-Sutono yang diprediksi lebih mudah masuk di kalangan pemilih Jawa, karena selain PDI Perjuangan yang selama ini dikenal sangat kuat di kalangan orang Jawa, juga faktor Sutono yang dipastikan akan mendapat dukungan dari kalangan Jawa.

Tantangan kedua Ridho adalah prestasi dan kinerja. Ridho sebagai petahana selama ini kurang memiliki kinerja dan prestasi menonjol yang bisa dia gunakan untuk merebut hati masyarakat pemilih. Ridho kurang cakap dalam membawa Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera menjadi lebih maju. Beda sekali dengan Sumatera Selatan yang bergerak maju dengan berbagai fasilitas publik yang nyaris mengikuti Jakarta. Padahal, Lampung lebih strategis dibanding Sumatera Selatan.

Untuk urusan birokrasi pun, Lampung tak kunjung berubah dalam melayani masyarakat. Layanan publik masih bisa dikatakan jauh dari menyentuh masyarakat apalagi menarik minat investor. Semua masih jaman “old”.

Kelemahan kinerja dan prestasi ini akan menjadi celah bagi pesaingnya untuk mengkritisi pemerintahan Ridho selama ini. Apalagi, Herman selaku wali kota Bandarlampung, boleh dikatakan punya prestasi dan kinerja cukup bersinar dalam membangun kotanya. Bukan hanya fisik, Herman juga menghadirkan layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan lebih baik selama dua periode mengelola Bandarlampung.

Sedangkan Mustafa dan Arinal masih tergolong mentah. Mereka belum memiliki kinerja dan prestasi yang bisa dikatakan menonjol. Mustafa adalah bupati yang belum bisa membawa Kabupaten Lampung Tengah yang ia kelola menjadi daya jual untuk menarik simpati pemilih. Secara fisik maupun layanan pubik, Lampung Tengah tidak begitu menonjol. Begitu juga dengan Arinal yang menjadi Ketua Golkar Lampung. Dia kurang memiliki prestasi dan kinerja yang bisa menarik pemilih.

Tantangan ketiga Ridho adalah logistik. Pada pemilihan kepala daerah 2013, Ridho menang setelah mengalahkan lawan-lawannya, termasuk Herman HN. Waktu itu Ridho mampu menggerakkan jaringan dan relawan hingga ke pelosok Lampung. Jaringan yang begitu besar dan bergerak massif ini, menurut dosen FISIP Universitas Lampung, Roby Cahyadi tidak lepas dari dukungan pengusaha dan perusahaan (Tribunnews.com, 10 April 2014).

Dukungan logistik kepada Ridho waktu itu sulit ditandingi lawan-lawannya, sehingga pepatah “Ada Gula Ada Semut” benar-benar terjadi.

Manakala Ridho masih mendapat dukungan logistik sama besar dengan pemilihan 2013, sudah barang tentu akan menjadi salah satu faktor bagi dia untuk memudahkan meraih kemenangan pada pemilihan 2018 ini.

Logistik itu ibarat gula, dan “Semut Selalu Mencari Gula”.

 

Oleh Krista Riyanto

 

 

Tinggalkan Komentar