Friday, December 14, 2018
Home > Bisnis > Proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung Dipastikan Molor
Bisnis

Proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung Dipastikan Molor

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengakui pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung molor dari target semula yaitu selesai pada tahun depan.

Rini menjelaskan progres pembebasan lahan kereta cepat ini baru 54% dengan rincian 55 kilometer (km) sudah diserahkan kepada pihak kontraktor. Sementara, 22 km sudah persiapan tahap pembangunan, dan 33 km persiapan land clearing.

“Kalau pembangunan sih molor. Karena pebebasan lahannya juga lambat. Kita baru dapat penlok (penetapan lokasi) pada 31 Oktober 2017 dan sampai sekarang ini kan masih banyak pebebasan lahan yang harus diminta persetujuan dari kementerian Kehutanan,” kata Rini di kantor Kemenko Perekonomian, Senin (19/2/2018).

Ia menambahkan, penyelesaian pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung baru bisa dilakukan 32 bulan terhitung pada Februari ini atau selesai pada Oktober 2020.

 “Kami masih sangat berharap. Kan sekarang hitungannya 32 bulan dari pembangunan, kan sekarang sudah mulai land clearing di Halim,” kata Rini.

Sebelumnya, Menteri Koordonator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan kemungkinan pengoperasian kereta cepat Jakarta-Bandung akan mundur hingga 2024 mendatang.

Pemerintah sedang mengevaluasi pelaksanaan proyek tersebut mulai dari perizinan, pembebasan lahan hingga arus kas dan model bisnis moda transportasi tersebut. “Tapi ini bukan untuk 2020 nanti, tapi bisa saja untuk tahun 2024,” kata Luhut di Istana Kepresidenan Jakarta, beberapa waktu lalu.

Proyek KA cepat Jakarta-Bandung digarap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang merupakan konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dengan China Railway International Co.

Investasi yang dibutuhkan mencapai US$5,57 miliar. Porsi pembiayaan sebesar 25% yang merupakan modal konsorsium, sedangkan sisanya bersumber dari pinjaman China Development Bank (CDB).

Berdasarkan perjanjian (agreement), total suntikan pinjaman dari CDB sebesar US$4,9 miliar. Adapun pencarian tahap pertama sekitar US$500 juta. Namun, Rini mengatakan suntikan dana tersebut belum diperlukan karena modal dari konsorsium masih mencukupi.

“Jumlah yang dicarikan pertama itu sekitar US$500 juta atau Rp6 triliunan. Tapi sekarang ini belum dibutuhkan karena masih menggunakan modal yang ada,” katanya. (*)

 

Editor: Fairuz Husaini

 

Tinggalkan Komentar