Friday, December 14, 2018
Home > Politik > Prabowo Mau Mencalonkan Lagi, Apa Modalnya Untuk Menang?
Politik

Prabowo Mau Mencalonkan Lagi, Apa Modalnya Untuk Menang?

UCAPAN Prabowo Subianto saat ulang tahun ke – 10 Partai Gerindra, Sabtu (10/2/2018) soal kesediannya untuk maju menjadi calon presiden pada pemilihan presiden 2019, mengkonfirmasi dugaan bahwa dia akan nyapres lagi. Memang belum ada pengumuman resmi dari Gerindra tapi itu hanya soal waktu. Pasalnya jauh hari partai yang didirikan oleh Prabowo ini sudah memberi sinyalemen akan mendukung mantan menantu Presiden Soeharto itu sebagai calon presiden pada Pilpres 2019. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang juga Wakil Ketua DPR bahkan sejak tahun 2017 menyebut partainya akan mencalonkan lagi Prabowo Subianto.

Di sisi lain Presiden Joko Widodo alias Jokowi, meski belum menyatakan kesediaannya, namun kemungkinan besar juga akan maju lagi sebagai calon presiden untuk yang kedua kalinya.

Kalau betul Prabowo dan Jokowi maju lagi di Pilpres 2019 berarti Pilpres 2014 akan terulang lagi dengan dua kandidat presiden yang sama: Prabowo dan Jokowi. Siapapun calon wakil presidennya tapi pertarungan yang sesungguhnya tentu antara calon presiden.

Pada Pilpres 2014 Prabowo kalah oleh Jokowi. Tentu dia dan pendukungnya sudah merencanakan berbagai strategi untuk mengalahkan Jokowi. Ada dugaan sekaligus kekhawatiran kubu Prabowo akan menggunakan politik identitas seperti Suku, Agama, Ras dan Antar golongan atau SARA seperti yang mereka gunakan pada pemilihan gubernur DKI Jakarta yang lalu. Anies Baswedan yang didukung kubu Prabowo menang telak mengalahkan pertahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bukan cuma kalah, Ahok bahkan masuk penjara.

Tapi apakah isu SARA ampuh sebagai senjata untuk melawan Jokowi? Apakah orang masih percaya dengan isu SARA karena ternyata Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno yang didukung Prabowo prestasi kerjanya tidak secemerlang yang dibayangkan. Beberapa kebijakan Anies justru menambah persoalan di Jakarta, contohnya soal becak yang boleh beroperasi lagi di Jakarta dan penanganan Pedagang Kaki Lima di Tanah Abang.

Jokowi memang berbeda dengan Ahok. Jokowi Islam dan Jawa, dua faktor penting yang menjadi modal dasar untuk pencalonan presiden di Indonesia. Jadi unsur suku, ras dan agama sudah tidak bisa dipakai untuk menyerang Jokowi.

Tuduhan Jokowi “PKI dan anti Islam” pun usang dan tidak terbukti. Yang tampak justru Jokowi dekat dengan ulama dan tokoh-tokoh Islam yang moderat. Dia juga rajin datang ke pesantren, dan menghadiri pertemuan yang diadakan oleh organisasi Islam. Di tingkat internasional Presiden Joko adalah presiden kedua Indonesia yang berani datang ke Afghanistan setelah Presiden pertama RI Soekarno. Dia bahkan diminta menjadi imam sholat yang diikuti oleh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di istana kepresidenan di Kabul. Komitmen dia terhadap kemerdekaan Palestina juga jelas, belum lagi dukungan untuk pengungsi Rohingya dengan datang langsung ke tempat pengungsian di Coz Bazar, Bangladesh.

Tidak mempan ke Jokowi, sekarang sasaran diarahkan ke partainya, PDI Perjuangan.

Mungkin sebaiknya kubu Prabowo harus memikirkan strategi yang lebih cerdas selain isu SARA kalau tidak ingin kalah lagi seperti pada Pilpres 2014.

Oleh Fairuz Husaini

Tinggalkan Komentar