Friday, December 14, 2018
Home > Politik > Pollycarpus Bawa Untung atau Buntung Bagi Partai Berkarya?
Politik

Pollycarpus Bawa Untung atau Buntung Bagi Partai Berkarya?

MASUKNYA Pollycarpus Budihari Priyanto ke Partai Berkarya bentukan Tommy Soeharto menjadi sorotan, karena dia adalah terpidana pembunuhan aktivis hak asasi manusia dari yang juga Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Munir Said Thalib.

Kasus pembunuhan ini menjadi isu ramai di luar negeri, khususnya Belanda dan Eropa, karena Munir waktu itu tewas di dalam pesawat Garuda Indonesia tujuan Belanda. Dan, Pollycarpus adalah pilot Garuda Indonesia.

Dan, ketika Pollycarpus menjadi kader Partai Berkarya, ditambah lagi dengan masuknya Muchdi yang pernah jadi bahan berita sepaket dengan Pollycarpus dalam tewasnya Munir, menjadikan Partai Berkarya seksi untuk dikupas.

Partai Berkarya mendapat untung apa dengan masuknya Pollycarpus dan Muchdi ini? Atau malah partai ini mendapat buntung?

Dilihat dari keuntungan, sumbangan apa yang bisa Pollycarpus kepada Partai Berkarya? Dia tidak punya massa, dia tidak punya kekuatan finansial, dia tidak punya pengaruh, sehingga sulit dipahamai oleh publik jika Partai Berkarya akan mendapat suara banyak atas nama Pollycarpus di dalamnya.

Malahan Pollycarpus bisa menjadi isu seksi bila digoreng oleh politikus yang menjadi pesaing Partai Berkarya atau lawan politik Tommy Soeharto. Rekam jejak Pollycarpus bisa digoreng untuk menyerang Partai Berkarya dan Tommy sendiri agar partai ini tak mendapat simpati publik.

Apalagi, aktivis hak asasi manusia, KontraS, Yati Andriyani langsung berkomentar pedas tengan masuknya Pollycarpus ini. Seperti dikutip Tempo.co edisi Kamis (8/3/2018), Yati menyebut, bergabungnya Pollycarpus dan Muchdi Purwoprandjono dalam Partai Berkarya, menjadi indikasi bahwa ada komunikasi antara mereka.

“Ini petunjuk untuk penegak hukum,” kata Yati.

Pollycarpus terbukti menjadi pelaku pembunuhan dan telah menjalani hukuman sampai dibebaskan bersyarat pada 28 November 2014, meski dia tetap tidak mengakui terlibat pembunuhan, sedangkan Muchdi bebas dari tuduhan sebagai orang yang memerintahkan Pollycarpus pada 2008.

Publik sekarang makin kritis dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan. Mereka bisa saja menganggap Partai Berkarya tidak peka isu-isu yang pernah jadi sentimen negatif di tengah-tengah pubik.

Dan, ketika serangan sudah massif di tengah-tengah publik, sulit bagi Partai Berkarya untuk mengelakkan diri. Partai ini akan mengalami kesulitan meraih simpati publik, dan publik pun yang akan “mengadili” lewat pemilihan umum. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

 

Tinggalkan Komentar