Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Politik Identitas dan Tata Kelola Model Anies Baswedan Ramaikan Sumatera Utara
HeadlinePolitik

Politik Identitas dan Tata Kelola Model Anies Baswedan Ramaikan Sumatera Utara

JAKARTA –  Semangat politik identitas dalam kemilihan gubernur di Jakarta tahun silam, sekarang mulai merambah ke Sumatera Utara. Meskipun tidak sepanas di Jakarta, gelora itu terass hangat.

Sekalipun pemilihan gubernur di Sumatera Utara diikuti oleh tiga pasang yang mendaftar ke KPU, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus,  Edy Rahmayadi-Musa Rajeckhshah, dan JR Saragih-Ance Selian, hanya pasangan Djarot-Sihar melawan Edy-Musa yang pendukungnya penuh gelora.

Sekelompok pendukung dan simpatisan Djarot-Sihar mulai menggarap komunitas Jawa dan Batak yang jumlahnya mendominasi komposisi etnis penduduk Sumatera Utara. Kelompok pendukung Edy-Musa mulai membawa semangat agama kepada calon pemilih mereka.

Mulai dari kedai kopi sampai unggahan informasi di media digital, media sosial, maupun video di youtube, selalu muncul komentar dukungan bermuatan semangat identitas etnis, agama dan tata kelola Gubernur Anies Baswedan di Jakarta. Masing-masing kubu dengan segala komentarnya berusaha menarik dukungan dengan semangat identitas maupun tata kelola pemerintahan di Jakarta.

Selain identitas, pendukung dan simpatisan Djarot-Sihar juga mempropagandakan bahwa Djarot-Sihar adalah figur bersih dan sanggup membenahi Sumatera Utara agar maju seperti Jakarta.

Di kubu pendukung Edy-Musa, juga tak kalah geloranya. Mereka mencoba mempropagandakan semangat agama untuk meyakinkan calon pemilih mereka. Selain itu, mereka juga mencoba mengangkat figur Edy sebagai orang tegas dan berani karena berlatar belakang tentara.

Dilihat dari komposisinya, komunitas Batak mendominasi populasi penduduk di Sumatera Utara dengan 41,93 persen, disusul Jawa 32,62 persen, Nias 6,36 persen, Melayu 5,92 persen, Tionghoa 3,07 persen, Minang 2,66 persen, Aceh 1,03 persen, Banjar 0,97 persen, Banten 0,36 persen, Sunda 0,37 persen, Papua 0,09 persen, dan sisanya etnis lain.

Dengan komposisi demikian, masuk akal jika komunitas Jawa dan Batak jadi incaran pendukung Djarot-Sihar, karena jumlahnya mencapai hampir 75 persen.

Sedangkan sekelompok pendukung dan simpatisan Edy di setiap unggahannya mencoba menarik simpati calon pemilih dengan semangat agama. Mereka ingin membawa semangat Jakarta ke Sumatera Utara dalam mengalahkan Djarot.

Menurut data, komposisi agama di Sumatera Utara adalah Islam sebagai yang dominan. Islam 63,91 persen, Kristen 27,86 persen, Katolik 5,41 persen, Buddha 2,43 persen, Hindu 0,35 persen, Konghucu 0,02 persen, dan lainya 0,01 persen.

Dengan peta demikian, kekuatan Djarot-Sihar maupun Edy-Musa relatif seimbang, sehingga akan terjadi kompetisi menarik.

Namun, ada semangat lebih besar yang diperlihatkan pendukung Djarot-Sihar untuk menang, karena mereka ingin membalas kekalahan di Jakarta.

Dan, kubu Djarot-Sihar juga mempropagandakan kebijakan kontroversial maupun kurang gemilangnya kepemimpinan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Uno dalam mengelola Jakarta sekarang ini.

Pendukung Djarot-Sihar selalu mempropagandakan bahwa Anies-Sandi yang diusung Gerindra dan PKS gagal menjadikan Jakarta lebih baik dari sebelumnya. Mereka tidak ingin masyarakat Sumatera Utara juga bernasib seperti Jakarta sekarang ini.

Terlepas dari semangat identitas yang menggelora dari kubu pendukung dan simpatisan Djarot dan Edy, kepemimpinan Anies dan Sandi dalam mengelola Jakarta sekarang akan ikut menentukan tingkat keterpilihan Edy-Musa yang juga diusung oleh Gerindra-PKS-PAN ini.

 

Oleh Krista Riyanto