Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Pemilihan Gubernur Sumatera Utara, Ke Mana Pendukung dan Simpatisan JR Saragih-Ance Berlabuh?
HeadlinePolitik

Pemilihan Gubernur Sumatera Utara, Ke Mana Pendukung dan Simpatisan JR Saragih-Ance Berlabuh?

SETELAH dinyatakan tidak memenuhi syarat mengikuti pemilihan gubernur Sumatera Utara, karena legalisasi ijazahnya, JR-Saragih-Ance Selian, juga dirundung masalah baru. Saragih dijadikan tersangka pemalsuan legalisasi ijazah, sehingga dia pun terancam pidana enam tahun penjara.

Kegembiraan pendukung Saragih-Ance hanya berlangsung sebulan setelah pada 12 Februari 2018, Bawaslu mengabulkan gugatan Saragih-Ance Selian setelah KPU menyatakan mereka tidak lolos sebagai peserta pemilihan kepala daerah.

Sekarang dan hari-hari berikutnya menjadi hari duka bagi kubu Saragih-Ance. Keluarga besar Partai Demokrat dan PKB sebagai pengusung Saragih-Ance sudah pasti kecewa dengan situasi demikian.

Saragih, khususnya, dia akan menghadapi kesibukan yang luar biasa. Bukan kesibukan mengelola massa untuk pemenangannya, namun sibuk menghadapi persoalan hukum yang membelitnya.

Ibarat petinju, satu dua tangan Saragih seperti terborgol. Dia tidak bisa lagi sanggup menangkis serangan lawan, apalagi menyerangnya. Dia hanya bisa mengelak dan berlari ke sana-sini agar pukulan lawan tidak mengenainya.

Posisinya sebagai tersangka dan statusnya tidak memenuhi syarat sebagai peserta pemilihan gubernur praktis menutup peluangnya untuk memimpin provinsi Sumatera Utara. Hanya keajaiban yang bisa membuka peluang Saragih berkompetisi.

Jika upaya hukum Saragih akhirnya berhasil menjadi peserta pemilihan sekalipun, peluangnya untuk menang amat tipis. Dia sudah banyak kehilangan momentum dan energi untuk mempersiapkan diri dalam pertarungan.

Peluangnya untuk mengonsolidasikan kekuatan sudah tertinggal jauh dibanding dua kompetitornya, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus dan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah.

Yang mungkin ditempuh simpatisan dan pendukung Saragih adalah berdiam diri sebagai penonton atau bergabung dengan Djarot-Sihar atau Edy-Musa.

Ada dua pendekatan yang bisa digunakan untuk merebut pendukung dan simpatisan Saragih-Ance ini. Pendekatan primordial etnis dan pendekatan ideologi agama.

Secara etnis, pendukung dan simpatisan Saragih lebih mencair bila bergabung dengan Djarot-Sihar, karena ada unsur Batak di dalamnya. Mereka yang bermarga Batak lebih mudah ditarik bergabung lewat jalur Sihar Sitorus.

Sedangkan dari ideologi agama, pendukung dan simpatisan Ance yang dari PKB ini masih bisa cair ke mana-mana. Mereka bisa ditarik ke kubu Edy karena di sana sudah bergabung partai pengusung berbasis agama seperti PAN dan PKS maupun ke kubu Djarot. Namun, terkadang sulit untuk mencairkan simpatisan dan pendukung PKB yang berpandangan moderat dengan kubu PAN dan PKS yang lebih konservatif. Hampir di semua kompetisi politik, kubu PKB yang berbasis Nahdlatul Ulama sulit untuk mencair dengan basis PAN dari kalangan Muhammadiyah dan PKS dari pendakwah kampus.

Sedangkan kubu Djarot dari kalangan nasionalis masih punya peluang untuk merebut simpati massa PKB sebagai penyokong Ance Selian. Banyak peristiwa politik, kubu nasionalis dari PDI Perjuangan sebagai penyokong Djarot bergandengan tangan dengan Nahdlatul Ulama dari PKB.

Dengan peristiwa yang menimpa Saragih ini, baik kubu Djarot-Sihar dan Edy-Musa langsung turun ke galanggang untuk berebut pendukung dan simpatisan Saragih-Ance yang telah kehilangan induk dan harapan. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar