Friday, December 14, 2018
Home > Politik > Pemilihan Gubernur Lampung, Luapan Air Hujan di Bandar Lampung Bisa Jadi Batu Sandungan Herman HN
Politik

Pemilihan Gubernur Lampung, Luapan Air Hujan di Bandar Lampung Bisa Jadi Batu Sandungan Herman HN

BEBERAPA hari belakangan, Kota Bandar Lampung, digenangi air hujan yang meluap di badan jalan. Genangan ini membuat aktivitas bermotor di kota yang dipimpin Wali Kota sekaligus calon gubernur Lampung, Herman HN ini, terganggu.

Bagi lawan politiknya, genangan air hujan yang meluap di badan jalan ini menjadi santapan isu politik yang seksi. Genangan itu menjadi salah satu pintu masuk bagi lawan politiknya untuk mengoreksi “keberhasilan” Herman dalam memimpin Bandar Lampung.

Dalam pemiihan gubernur tahun ini, Heran HN berpasangan dengan Sutono, birokrat. Mereka diusung PDI Perjuangan.

Mereka akan bersaing dengan petahana M. Ridho Ficardo-Bachtiar Basri yang diusung Partai Demokrat, PPP, dan Gerindra. Selain itu, Herman juga akan bersaing dengan Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim, yang diusung Partai Golkar, PKB, dan PAN. Serta akan bersaing dengan Mustafa-Ahmad Jajuli yang diusung Partai Nasdem, Hanura, dan PKS.

Dari peta persaingan ini, Herman akan menghadapi lawan berat, Ridho dan Arinal. Namun, kubu Ridho belakangan kurang solid setelah Ketua  Gerindra Kabupaten Tanggamus, Darussalam, “bermesraan” dengan Arinal.

Dari mesin politik, Herman sebenarnya kuat, karena diusung PDI Perjuangan sebagai pemenang Pemilu 2014 di Lampung. Namun, Herman kurang mampu “mengendarai” mesin PDI Perjuangan yang ber-CC besar ini. Gerakan Herman terlihat kurang kencang dan lincah.

Dengan isu banjir ini, Herman bisa mendapat batu sandungan mengingat dia selalu mem-branding diri sebagai figur yang berhasil mengelola Bandar Lampung.

Ketua Pusat Studi Kota dan Daerah, Universities Bandar Lampung (UBL), IB Ilham Malik di Bandar Lampung, Rabu (7/3) mengatakan, banjir ini disebabkan oleh

minimnya kawasan resapan air, karena telah berubah fungsi menjadi pemukiman.

Menurutnya, tata guna lahan serta tata kota di Bandar Lampung masih mengalami masalah, karena penempatan kawasan pemukiman yang bisa mengokupasi lahan konservasi.

“Zona pemukiman dibangun oleh warga tanpa ada kesesuaian dengan konsep pemanfaatan lahan yang sudah diatur dalam rencana tata bangunan dan lingkungan,” kata dia. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar