Friday, December 14, 2018
Home > Hukum > Pemilihan Gubernur Lampung, Cinta Lama Gerindra ke Arinal Bersemi Kembali
Hukum

Pemilihan Gubernur Lampung, Cinta Lama Gerindra ke Arinal Bersemi Kembali

KETUA Partai Gerindra Kabupaten Tanggamus, Lampung, Darussalam, secara terbuka mendampingi calon gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, ke acara rapat kerja daerah Partai Garuda Lampung di Bandar Lampung, Rabu (28/2/2018) malam.

Kehadiran seseorang dalam sebuah acara memang biasa, tapi jika kehadirannya itu dalam suasana persaingan politik, jelas punya makna lain.

Manuver Darussalam mendampingi Arinal ini bisa ditafsirkan macam-macam oleh publik. Salah satunya adalah bahwa Gerindra tidak lagi sepenuh hati mendukung M. Ridho Ficardo-Bachtiar Basri, yang diusung Partai Demokrat, Gerindra, dan PPP, ini dalam pemilihan gubernur Lampung.

“Sebagai teman saja dan tidak ada hubungan dengan politik,” kata Darussalam menepis anggapan bahwa dia membelot dari kubu Ridho ke Arinal.

Tetapi, tepisan Darussalam ini tidak bisa menjawab keraguan publik. Secara politis, publik akan menilai bahwa telah terjadi “pembelotan” secara halus namun terbuka dari tokoh Gerindra kepada kubu Arinal Djunaidi-Chusnuniah Chalim yang diusung Partai Golkar dan PKB dalam pemilihan gubernur Lampung ini.

Apalagi, Ketua Gerindra Lampung, Gunadi Ibrahim seperti “menutup mata” atas manuver Darussalam ini. Gunadi hanya bilang, “Kenapa dia (Darussalam) ke sana? Mungkin lagi santai datang ke hotel. Jadi tak perlu dipikirin, repot amat!”

Pernyataan Gunadi ini jelas seperti sinyal bahwa Gerindra tidak kuasa lagi mengontrol kadernya agar mendukung Ridho. Dan, ini bisa membahayakan bagi kader atau simpatisan Gerindra di tingkat akar rumput.

Apa yang terjadi di kalangan Gerindra ini sebenarnya bukan mengejutan lagi jika ditilik dari proses politik sebelumnya. Pada awalnya, kader Gerindra memang condong mendukung Arinal, namun kemudian bergeser ke Ridho pada menit akhir pendaftaran ke KPU Lampung.

Dengan fakta ini, bisa dimengerti jika sebagian kader Gerindra masih punya kisah “cinta lama bersemi kembali” kepada Arinal. Mereka sulit untuk secara tiba-tiba berpindah ke lain hati, ke kubu Ridho.

Dan, cinta lama kader Gerindra ke Arinal akhirnya mulai bersemi kembali dalam proses waktu. Satu kader dan tokoh Gerindra di salah satu kabupaten, Darussalam pun berani “bermesraan” dengan Arinal dalam suana kebatinan politik yang penuh kompetitif antara Ridho melawan Arinal sekarang ini.

Bagi kubu Ridho, manuver Darussalam ini jelas “menyesakkan” hati. Manuvernya ini bisa menjadi lubang kecil bagi kader dan pendukung lain untuk keluar dari barisan Ridho.

Lalu, publik pun bertanya, ada apa sebenanya di dalam kubu Ridho sendiri?

Jawabannya sudah pasti bermacam-macam. Tetapi, sebagian orang menduga ada ketidakharmonisan di kubu Ridho dalam berbagi kepentingan atau memang ada daya tarik lain yang lebih “manis” dari kubu Arinal?

Jika salah satu dugaan itu benar, ini membahayakan bagi mesin politik Ridho. Dia bisa kehilangan salah satu kekuatan besar untuk mengarungi persaingan politik melawan pesaingnya.

Apalagi, Demokrat dan PPP bukan lagi partai terkuat di Lampung. Dan, Ridho sendiri selama lima tahun berkuasa kurang puya modal prestasi gemilang yang bisa dibanggakan sekaligus punya daya tarik untuk meraih simpati masyarakat Lampung.

Dalam catatan masyarakat Lampung, Ridho-Bachtiar Basri nyaris tidak punya terobosan spektakuler dalam mengadministrasi keadilan sekaligus memajukan Lampung secara signifikan. Kepemimpinan mereka dalam membawa Lampung masih di bawah tetangganya, Sumatera Selatan, yang terus bergerak maju laksana kota metropolitan di bawah Gubernur Alex Noerdin.

Padahal, Lampung dan Sumatera Selatan, punya potensi dan karakter yang nyaris sama. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar