Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Pemilihan Gubernur Jawa Timur, Demokrat Seperti Berjalan Sendirian
HeadlinePolitik

Pemilihan Gubernur Jawa Timur, Demokrat Seperti Berjalan Sendirian

PEMILIHAN gubernur Jawa Timur yang diikuti dua pasang, Sjaifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, perkiraaan awal akan berjalan sengit.

Sjaifullah-Puti yang diusung PKB dan PDI Perjuangan serta didukung Partai Gerindra dan PKS, melawan Khofifah-Emil yang diusung Partai Demokrat, Golkar, Hanura, PAN, PKPI, dan PPP, belakangan menunjukkan ketidaksepadanan.

Mesin politik Gus Ipul-Puti telah bergerak massif, kencang, dan simultan, menerobos ke segala sudut kampung di Jawa Timur. Mereka juga aktif mengekspos diri ke media. Gerakan mereka pun tersebar secara luas.

Di sini memperlihatkan bahwa kekuatan pengusung dan pendukung Gus Ipul-Puti memprsiapkan energi besar untuk mendulang suara. Mereka membuat berbagai macam jaringan untuk meraup pemilih.

Jaringan mereka menyasar kelompok tani, nasionalis loyalis Soekarno dalam wadah Marhaenis, penggiat wisata di desa-desa, kalangan muda kreatif, dan tidak ketinggalan kelompok santri. Mereka menggunakan pendekatan kesejahteraan dalam menarik suara yang mereka sebut Jawa Timur Kabeh Makmur –Jawa Timur Semua Makmur.

Puti Guntur yang selama ini tidak dikenal masyarakat setempat pun mendapat sambutan meriah di sana-sini. Ini tak lepas dari ketrampilan Puti yang punya ciri khas dalam berpidato. Dia menunjukkan bakat sebagai perempuan muda yang “mumpuni”.

Sedangkan kubu Khofifah-Emil, sampai sekarang belum menunjukkan gerakan semassif Gus Ipul-Puti. Khofifah dan pengusung utamanya, Partai Demokrat tampaknya berjalan sendiri, karena partai pengusung dan pendukung lainnya belum kelihatan turut serta menggerakkan mesinnya untuk memenangkan Khofifah-Emil.

Ini menjadi tanya besar di mata publik. Mungkinkah Khofifah-Emil, kekurangan “amunisi” untuk berlaga? Atau mereka hanya mendapat kendaraan tanpa mesin?

Hanya mesin Demokrat yang bergerak ke sana-sini. Tak tanggung-tanggung, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono bahkan sudah turun gunung di Jawa Timur. Dia menggerakkan semua elemen partai baik yang sudah bangun maupun yang masih tidur.

Bagi Susilo, pemilihan gubernur ini menjadi pertarungan Demokrat di Jawa Timur, mengingat sepuluh tahun lamanya daerah itu dipimpin oleh kader partai berlambang mersi tersebut. Susilo tentu tak ingin kekuasaan di JawaTimur jatuh kepada pendatang baru.

Dan, Jawa Timur, juga menjadi salah satu daerah basis suara yang memberi sumbangan besar untuk pemilihan umum maupun pemilihan presiden yang sedang dibidik Demokrat pada 2019.

Pada Pemilu 2014, suara Demokrat jauh di bawah PKB maupun PDI Perjuangan.

PKB menjadi pemenang dengan meraih 3.671.911 suara atau 19,6%, disusul PDI Perjuangan 3.523.434 suara atau 18,8%, Gerindra 2.457.966 atau 13,1%, Demokrat 2.340.170 atau 12,5%, dan Golkar 1.912.474 atau 10,2%, PPP 1.176.186 suara atau 6,28%, PAN 1.147.319 suara 6,13%, PKS 974.388 suara 5,20%, NasDem 938.933 suara atau 5,02%, Hanura 747.244 suara atau 3,99%, PBB 220.313 suara 1,18%, dan PKPI 104.379 suara atau 0,56%.

Dengan hasil pemilu 2014 ini, wajar jika Demokrat bekerja keras memenangkan Khofifah, dengan harapan akan secara signifikan ikut mendongkrak suara mereka pada Pemilu 2019 sekaligus menjadikan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon pemimpin masa depan.

Tetapi, dengan persaingan ketat demikian, Demokrat tidak mungkin berjalan sendiri dalam memenangkan Khofifah. Sekuat-kuatnya pelari maraton, Demokrat dan Khofifah bisa kehabisan napas dan energi jika harus melawan pelari estafet yang berlari bergantian seperti mesin politiknya Gus Ipul-Puti. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar