Friday, December 14, 2018
Home > Hukum > Lagi-lagi Kadernya Masuk Dalam Pusaran Korupsi, Suara PKS Bisa Jeblok  
Hukum

Lagi-lagi Kadernya Masuk Dalam Pusaran Korupsi, Suara PKS Bisa Jeblok  

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan politis anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR Yudi Widiana sebagai tersangka dugaan tindak pidana pencucian uang. Penetapan Yudi sebagai tersangka disampaikan Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Kantor KPK di Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Kasus pencucian uang tersebut terkait perkara suap usulan proyek di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di mana dalam kasus ini sudah disidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan Yudi duduk sebagai terdakwa.

Artinya politisi PKS ini terlibat dalam dua kasus korupsi sekaligus. Pertama dalam kasus suap usulan proyek PUPR, kedua, kasus pencucian uang yang merupakan pengembangan kasus pertama.

Dalam kasus pertama Yudi didakwa menerima suap lebih dari Rp 11 miliar dari Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa, So Kok Seng alias Aseng. Uang tersebut diserahkan Aseng kepada stafnya  bernama Asep dan diterima oleh Anggota DPRD Bekasi Muhammad Kurniawan. Yudi dan Kurniawan berasal dari partai yang sama, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dari fakta persidangan terungkap percakapan antara Yudi dan dan Kurniawan yang menggunakan istilah dalam Al Quran sebagai kode untuk uang yang diterima dari Aseng.

Istilah seperti Liqo dan Juz, Liqo dalam komunikasi antara Kurniawan dan Yudi berasal dari bahasa Arab yang artinya pertemuan. Kurniawan menggunakan kata liqo untuk menjelaskan pertemuannya dengan Asep untuk menerima uang dari Aseng.

Sedangkan juz merupakan bab atau bagian dalam kitab suci umat Islam, Al-Quran. Jawaban ‘4 juz lebih campuran’ menunjukkan jumlah uang sebesar Rp4 miliar yang terdiri dari mata uang rupiah dan dollar Amerika Serikat.

Jelas ini pukulan buat PKS, partai yang selalu mengkampanyekan nilai Islam tentang keadilan dan kejujuran. Sudah terlibat korupsi lebih dari satu kasus, masih pula menggunakan istilah dalam kitab suci untuk perbuatan yang dilarang dalam agama.

Rasanya sulit buat PKS untuk menjelaskan kepada konstituennya dan juga kepada rakyat Indonesia tentang keterlibatan politisi dan petinggi partai tersebut dalam korupsi. Sama seperti orang yang berteriak-teriak melarang orang mencuri tapi dia sendiri melakukannya. Apalagi PKS membawa label agama Islam.  Kepercayaan rakyat jelas hilang.

Kita masih ingat kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementrian Pertanian pada tahun 2013 yang melibatkan Presiden PKS sekaligus anggota DPR waktu itu Luthfi Hasan Ishaaq. Dalam kasus itu Luthfi divonis hukuman 16 tahun penjara dan denda Rp1 miliar.

Bayangkan seorang Ketua Umum partai berlabel Islam melakukan tindakan korupsi. Akibatnya jelas fatal. Suara PKS turun drastis. Pada pemilihan legislatif 2014, atau setahun setelah kasus Luthfi Hasan, perolehan kursi PKS di DPR turun menjadi 40 kursi, padahal pada pemilihan legislatif 2009 PKS memperoleh 59 kursi.

Kasus yang menjerat Yudi pun bisa menjadi bandul politik yang bisa menenggelamkan suara PKS pada pemilihan umum 2019 kelak, meskipun bandul itu tidak seberat yang dibuat oleh Lutfi. (*)

 

Oleh Fairuz Husaini

 

Tinggalkan Komentar