Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Jalan Gatot Nurmantyo Menuju Tangga Pencalonan Presiden Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan
HeadlinePolitik

Jalan Gatot Nurmantyo Menuju Tangga Pencalonan Presiden Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

KIVLAN Zein menggaungkan Jenderal Gatot Nurmantyo yang pada tanggal 1 April 2018 ini pensiun agar maju menjadi calon presiden, karena telah memiliki logistik besar.

Namun, sambutan dari partai politik terhadap Gatot tidak cukup antusias, bahkan publik pun terasa “adem-ayem”.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) justeru menanganggap Gatot belum punya syarat untuk menjadi salon wail presiden di kubu Prabowo Subianto. Menurut Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, untuk menjadi wakil presiden, dia harus memenuhi tiga syarat; didukung mitra koalisi, punya kemampuan mendulang suara, dan berintegritas.

“Belum ada partai yang mendukung beliau, berarti satu syarat tidak terpenuhi,” kata Mardani, Jumat (9/3/2018), di Jakarta.

Hanya Partai Nasdem yang menyambut Gatot bila dia mencalonkan diri sebagai presiden. Nasdem, menurut, Sekretaris Fraksi di DPR, Syarif Alkadrie, Gatot layak dijadikan calon wakil Joko Widodo.

“Saya melihat Gatot punya keterpaduan yang bisa saling menambal kekurangan yang ada di kedua pemimpin tersebut,” katanya.

Tetapi, sinyal Nasdem ini belum dapat tempat di mitra koalisi pendukung Joko Widodo, Partai Golkar, Hanura, PPP, dan PDI Perjuangan. Partai tersebut masih mencari figur-figur lain yang bisa mendulang suara untuk mendongkrak tingkat elektabilitas Joko Widodo.

Ada figur yang cukup ramai disebut-sebut untuk dipasangkan dengan Joko Widodo. Misalnya, Kepala Staf Kepresidenan, jenderal purnawirawan Moeldoko; Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi; sampai Sri Mulyani.

Dengan calon-calon yang begini banyak, tidak mudah bagi Gatot untuk bersaing dengan mereka dalam mendampingi Joko Widodo. Apalagi, sepak terjangnya sempat “meresahkan” politikus PDI Perjuangan di DPR setelah Gatot mengungkit tentang generasi anggota PKI.

Untuk menjadi pendamping Joko Widodo, Gatot mesti mendapat dukungan semua mitra koalisi. Satu saja anggota mitra koalisi menolak, apalagi partai sebesar PDIP maka kesempatan Gatot hilang.

Begitu juga jika dia akan menjadi pendamping Prabowo Subianto. Gatot mesti bisa membawa mitra koalisi serta bisa diterima semua pihak agar tingkat keterpilihan Prabowo melonjak mengingat angka elektabilitas Jokowi masih di atas calon lainnya.

Apalagi, PKS sebagai mitra dekat Prabowo sudah menyebut Gatot, belum memenuhi syarat.

Yang paling mungkin adalah, Gatot menjadi calon dari poros ketiga. Jika lewat poros ketika, Gatot juga berat, karena dia mesti meyakinkan partai politik untuk mengusungnya. Di poros ini, Gatot akan bersaing dengan Agus Harimurti Yudhoyono yang juga anak emas Partai Demokrat.

Mana mungkin Demokrat mau menyerahkan tiket ke Gatot, dengan menepikan Agus. Demokrat diperkirakan akan mengajukan Agus lalu mencari pendampinginya dari kalangan sipil.

Bila demikian halnya, jalan Gatot menuju tangga pencalonan masih cukup gelap, karena syarat yang dia bawa belum cukup menjadi kunci pembuka koalisi. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar