Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Jadilah Koruptor Baik Hati Seperti Robin Hood
HeadlineHukum

Jadilah Koruptor Baik Hati Seperti Robin Hood

GENCARNYA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkapi kepala daerah dan calon kepala daerah belakangan ini, menambah antipati publik kepada orang-orang berwatak korup.

Koruptor dianggap sampah, meskipun belum menjadi musuh yang harus diperangi bersama-sama.

Tetapi, koruptor juga bisa menjadi oli pelicin yang melancarkan kerja mesin atau perekonomian. Bukan sekadar oli bekas yang mengotori lingkungan karena berwarna hitam.

Lantas proses seperti apa agar seorang koruptor bisa disebut sebagai oli pelumas yang bisa melicinkan berbagai kerja dan kehidupan manusia? Pendek kata, bagaimana koruptor bisa disebut sebagai manusia berguna layakya Robin Hood?

Banyak contoh disekitar kita bagaimana orang-orang berlaku korup—meskipun belum dibuktikan secara hukum, namun bisa dirasakan dari kenyataan sehari-hari –-punya manfaat bagi manusia lainnya, laksana oli yang melicinkan kerja mesin.

Orang-orang yang berperilaku korup baik hati sepert ini adalah mereka yang mengambil sumber daya secara illegal, namun menggunakan sumber daya itu untuk menolong orang lain memiliki  lapangan kerja sebagai sumber hidup.

Mereka menggunakan sumber daya itu untuk menghimpun orang-orang di sekitarnya agar bisa berproduksi dan menghasilkan karya bagi orang lain, sehingga menggerakkan perekonomian di sekitarnya.

Tentu, mereka tidak perlu ikut menikmati sumber daya yang mereka dapat secara ilegal tadi. Mereka cukup menjadi Robin Hood yang hidup dengan keadaan sehari-hari.

Dengan begitu sumber daya hasil korupsi tidak menumpuk menjadi aset pribadi yang hanya dinikmati sendiri untuk memuaskan syahwat badan atau syahwat politik.

Sayangnya, orang-orang yang ditangkapi KPK selama ini bukan lagi Robin Hood-nya Indonesia yang menolong kehidupan bagi lingkungannya. Mereka sekadar menumpuk harta korupsinya dalam bentuk properti, kendaraan, deposito, yang hasilnya mereka nikmati dalam rangka memuaskan syahwat badan dan syahwat politiknya.

Pemuasan syahwat badan mereka umbar dengan menikmati kehidupan mewah layaknya seorang raja, namun mereka menutupinya dengan perbuatan sopan. Mereka ingin dihormati oleh orang-orang di sekitarnya sebagai orang sukses.

Syahwat politik juga kerap mereka puaskan dengan menjadi calon kepala daerah, anggota dewan, maupun pejabat politik. Mereka menggunakan harta ilegalnya untuk menyerang lawan maupun melicinkan tujuan politiknya.

Mereka tidak pernah membagi harta mereka untuk menolong orang di sekitarnya agar berkarya menjadi produktif, sehingga kehidupan mereka menjadi indah.

Ibarat kucing mencuri ikan, mereka memakan semuanya, mulai  kepala, ekor, sisik, hingga duri-durinya, ditelan habis. Wajar saja jika duri-duri dari ikan itu menyangkut di kerongkongkan dan usus mereka sendiri, lalu mati! (*)

 

Oleh Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar