Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Djarot-Sihar dan Edy Musa Berebut Suara JR Saragih-Ance Selian
HeadlinePolitik

Djarot-Sihar dan Edy Musa Berebut Suara JR Saragih-Ance Selian

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara tidak meloloskan bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung oleh Partai Demokrat, PKB, dan Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia (PKPI), JR Saragih-Ance Selian pada Senin (12/2/2018), untuk mengikuti pemilihan kepala daerah 2018.

Menurut KPU Sumatera Utara, ijasah Saragih terganjal legalisasi, sehingga cacat sebagai bakal calon gubernur. Praktis, dengan gugurnya Saragih-Ance,  pemilihan gubernur di Sumatera Utara hanya diikuti dua pasang, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus yang diusung PDI Perjuangan-PPP dan Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah yang diusung PKS,Hanura, Golkar, PAN, Gerindra, da Nasdem.

Dengan dua pasang calon yang akan berkompetisi ini, maka akan terjadi persaingan sengit dalam berebut suara pemilih sejak sekarang sampai pemungutan suara.

Berbagai isu telah digelindingkan untuk meraih simpati publik. Djarot-Sihar misalnya, selain menggarap basis pemilih Jawa, Batak, Nias, dan Tionghoa yang jumlahnya mayoritas –mencapai 80 persen penduduk Sumatera Utara, mereka juga mengusung semboyan sebagai tokoh bersih, jujur, dan transparan.

Di sini Lain, Edy-Musa, sampai sekarang masih yakin dengan semboyan sebagai tokoh tegas dan berani. Mereka juga mengusung isu sebagai putera daerah Sumatera Utara. Kubu Edy-Musa kelihatannya akan banyak menggarap identitas agama mengingat ada dua partai berbasis massa agama seperti PKS dan PAN di belakang mereka.

Lalu bagaimana dengan basis dukungan yang dimiliki oleh Saragih-Ance, setelah mereka gagal maju?

Dilihat dari karakteristiknya, massa mereka adalah kalangan dari warga Batak sesuai dengan garis marga Saragih, serta kalangan muslim moderat sesuai karakteristik dari Ance yang berlatar NU.

Yang paling dekat untuk menjadi pelarian massa Saragih-Ance adalah ke kubu Djarot-Sihar. Djarot-Sihar menjadi repesentasi dari karakter mereka dibanding Edy-Musa.

Tetapi, kubu Edy-Musa masih bisa memiliki celah untuk meraup suara pendukung Saragih-Ance bila mereka punya pendekatan berbeda. Minimal mereka bisa mendapat limpahan suara dari kalangan NU sebagai penyokong Ance dan loyalis Susilo Bambang Yudhoyono yang selama ini kurang “akrab” dengan Megawati.

Agar dukungan massa Saragih-Ance bisa dipetik, kubu Edy, Musa setidaknya mesti menarik dukungan dari elite Demokrat dan PKB untuk beralih mendukung mereka.

Ketrampilan kubu Edy-Musa menggarap mesin politik Demokrat dan PKB akan menentukan kekuatan mereka untuk mengimbangi Djarot-Sihar yang secara karakteristik politis dan identitasnya lebih dekat dengan pendukung Saragih-Ance. (*)

 

Oleh Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar