Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Cak Imin dan PKB Lebih Berani dan Lebih Elegan Dibanding PKS
HeadlinePolitik

Cak Imin dan PKB Lebih Berani dan Lebih Elegan Dibanding PKS

SISI vokal, Partai Kadilan Sejahtera (PKS) lebih nyaring dibanding Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain karena PKS sebagai oposan, kader-kadernya juga lebih berhasrat untuk menumbangkan Joko Widodo sebagai petahana dibanding kader PKB.

Tetapi, ada sisi lain di mana PKB jauh lebih berani dan elegan dalam memosisikan diri dalam kancah pemilihan presiden dibanding PKS.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sudah secara gambang mendeklarasikan diri sebagai calon wakil presiden, sedangkan Presiden PKS Sohibul Iman belum pernah ada deklarasi.

Bahkan dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu (4/3/2018), Cak Imin –demikian sapaannya, berani menjual diri sekaligus “mengancam” Joko Widodo, selaku bakal calon presiden potensial pada tahun depan.

“Saya ingatkan, kalau salah memilih calon wakil presiden maka bisa kalah,” kata Cak Imin.

“Kalau memilih saya, pasti akan menang,” kata Cak Imin disambut gelak tawa penonton yang hadir.

Cak Imin mengaku punya modal besar untuk tampil di kancah pemilihan presiden. Apalagi kalau bukan menjual massa PKB yang dia sebut berjumlah 11 juta.

“Siapapun yang didukung PKB pasti menang. Bukan hanya itu. Kalau saya enggak dipilih menjadi calon wakil presiden Joko Widodo, saya bisa nyapres lho nanti,” kata Cak Imin.

Meskipun hasrat Cak Imin menjadi bakal calon presiden ini tidak kunjung disambut positif di antara partai politik maupun publik secara luas, dia telah berani  masuk ke gelanggang persaingan.

Cak Imin secara politis memang tergolong figur beruntung. Dia pernah menyingkirkan pendiri PKB, Abdurrahman Wahid dalam konflik kepengurusan PKB, dia juga pernah menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Ketua DPR.

Manuver Cak Imin sekarang ini boleh dibilang cukup berani meskipun survei elektabilitas, dia masih di bawah figur-figur lainnya. Cak Imin bahkan masih di bawah Basuki Tjahaja Purnama akrab disapa Ahok yang sudah dalam tahanan serta tak memiliki partai politik ini.

Apapun kondisinya, Cak Imin masih lebih elegan dan berani dibanding kader PKS, termasuk Sohibul Iman.

Kader PKS ampai sekarang tak kunjung berani mendeklarasikan diri sebagai calon presiden atau wakil presiden. Mereka hanya berteriak-teriak ingin menantang Joko Widodo, tapi mereka tak kunjung berani memunculkan diri sebagai penantang Joko Widodo.

Bahkan, PKS justeru seperti follower dari Partai Gerindra dan Prabowo Subianto. Mereka selalu memuji Prabowo sebagai figur yang layak menggantikan Joko Widodo untuk membawa Indonesia lebih baik lagi.

Dengan sikap PKS demikian, publik pun bertanya-tanya, apakah partai dakwah ini sekarang sudah menjadi oragnisasi sayap Gerindra dan Prabowo? Lalu, nilai perjuangan apa yang akan mereka bawa dalam menghadapi persaingan politik?

Tidak salah jika kemudian nanti, PKS tidak akan mendapat apa-apa dari rakyat pemilih. Pemilih bisa saja lebih baik menyalurkan aspirasi mereka ke Gerindra sebagai holding politik mereka dibanding ke PKS yang hanya sebatas “cabangnya”.

Waktulah juga yang akan menjawab semuanya ini. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar