Friday, December 14, 2018
Home > Politik > Berani Mengurusi Transmigran, Menyambut Kemenangan di Riau
Politik

Berani Mengurusi Transmigran, Menyambut Kemenangan di Riau

SUARA masyarakat transmigran dari Pulau Jawa di Riau relatif signifikan untuk ikut menentukan keterpilihan calon gubernur pada pemilihan kepala daerah 2018 ini.

Dengan populasi yang mencapai 30-an persen di Riau, yang mana sebagian besar hidup di daerah-daerah , kelompok ini menjadi incaran utama kubu dari pasangan petahana Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno dalam pemilihan gubernur.

Salah seorang anggota tim sukses Arsyad-Suyatno, Akhlakul Karim yang juga Sekretaris Jenderal Perkumpulan Masyarakat Transmigrasi (Permata), menuturkan bahwa transmigran hanya akan memberi dukungan kepada tokoh yang punya komitmen terhadap urusan transmigrasi.

Dan, Arsyadjuliandi yang sekarang menjadi Gubernur Riau ini, menurutnya, punya komitmen besar terhadap transmigrasi. Mulai dari penganggaran pembangunan sampai layanan publiknya.

“Transmigrasi adalah sentra pembangunan di pelosok negeri, sehingga bila di situ berkembang maka negeri ini juga ikut berkembang,” ujar Akhlakul Karim yang juga Sekretaris Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Riau ini.

Dengan populasi transmigran yang begitu besar dan tersebar di 11 dari 12 kabupaten/kota di Riau, wajarlah bila Arsyad dan tim suksesnya sangat ingin mengambil simpati kelompok pemilih ini.

Berpasangan dengan kader PDI Perjuangan yang juga Bupati Rokan Hilir, Suyatno, Arsyadjuliandi, diperkirakan tidak terlalu sulit untuk meraih dukungan dari transmigran, karena partai berlogo banteng ini dikenal sebagai rumahnya kelompok transmigran nasionalis.

Belum lagi komunitas Batak yang mencapai 12,55 persen di Riau juga lebih mudah diraih simpatinya oleh Arsyadjuliandi melalui PDI Perjuangan dengan “Semangat Jakarta 2017-nya”.

Di kalangan masyarakat transmigran, kehadiran pemimpin Riau yang memberi perhatian kepada mereka lewat layanan publik sangat mereka dambakan. Mereka yang merasa menjadi penopang ketahanan pangan dengan pertanian dan perkebunannya ini, juga ingin naik derajadnya.

“Itulah mengapa kami masyarakat transmigran sudah pasti akan memberi dukungan kepada calon pemimpin yang juga peduli kepada urusan yang dihadapi transmigran,” tutur Karim.

Dari 11 sebaran transmigran di Riau ini, masih banyak wilayah yang relatif “terisolasi”. Infrastruktur jalan, layanan pendidikan, dan kesehatan, belum sesuai harapan warganya.

Sudah waktunya calon pemimpin hadir menolong masyarakat transmigran yang menjadi mesin ketahanan pangan di Riau ini agar tidak meninggalkan kampungnya menuju ke kota demi meraih derajad hidup yang lebih layak. Tidak berlebihan bila disebut “siapa yang mengurusi transmigran maka dia berpeluang menyambut kemenangan.” (*)

 

Oleh Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar