Friday, December 14, 2018
Home > Politik > Anies Baswedan yang Masih Lemah Menahan Tekanan
Politik

Anies Baswedan yang Masih Lemah Menahan Tekanan

SEJAK menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasjid Baswedan belum terlihat menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan berpendirian tough seperti diharapkan publik.

Mudah saja menilainya. Lihat saja dua kebijakan yang ditentang sekelompok orang, lalu dia anulir.

Pertama penutupan jalan di kawasan Pasar Tanahabang, Jakarta Pusat sebagai upaya dia “membalas” budi kepada konstituennya –pedagang kaki lima agar bisa berjualan di tepi jalan. Kedua adalaa rencananya mengganti nama Jalan Warung Buncit menjadi Jalan AH Nasution.

Kedua kebijakannya ini menjadi mentah di tengah jalan setelah ditentang sekelompok orang.

Kebiajakan penutupan jalan umum di Tanahabang, selain menabrak aturan juga ditentang oleh sopir angkutan umum karena mematikan pendapatan mereka. Sopir angkutan umum menentang penutupan jalan, karena mereka tak lagi bisa mencari penumpang di situ.

Begitu juga dengan rencana mengganti nama jalan Warung Buncit yang ditentang sekelompok orang yang mengaku sebagai budayawan maupun seniman Betawi. Mereka menilai rencana Anes mengganti nama jalan Warung Buncit menjadi AH Nasution adalah kegagalannya memahami sejarah Betawi.

Dan, Anies pun mengurungkan rencananya itu.

Dua kebijakan yang kontroversi itu menunjukkan bahwa Anies dan Sandiaga yang diusung oleh Gerindra dan PKS ini mesti memperbaiki kualitas kepemimpinan mereka dalam mengelola Jakarta. Sebagai pejabat teras negara sikapnya yang labil begini bisa merusak tatanan bernegara dan bermasyarakat.

Jika kelabilan kepemimpinan Anies dan Sandiaga ini terus berlanjut, akan muncul kemerosotan kepercayaan publik kepada mereka. Jika kepercayaan publik merosot, sulit bagi Anies dan Sandiaga untuk membanun Jakarta yang mereka cita-citakan—maju kotanya, bahagia warganya.

Sejarah mencatat, kemajuan sebuah kota, masyarakat, maupun negara, ditentukan kekuatan pemimpinnya. Kuat buka berarti suka berkelahi atau bersuara lantang, namun keteguhan dan keberanian sikapnya di atas dasar hukum positif dan keadian sosial.

Di mana pun, pemimpin yang lemah akan melemahkan kota, masyarakat, dan negaranya, begitu juga sebaliknya.

Jakarta yang masih porak-poranda ini menunggu sentuhan pemimpin yang kuat dan tegas, bukan figur yang lemah oleh tekanan massa dan kepentingan kelompoknya.

Apa yang ada dalam kepemimpinan Anies dan Sandiaga di Jakarta ini bisa menjadi blunder bagi Prabowo Subianto, Gerindra, dan PKS di masa datang. Publik akan menilai bahwa figur-figur yang diusung Prabowo, Gerindra, dan PKS ternyata  tidak kompeten bekerja apalagi sampai memajukan kota dan membahagiakan waganya.

Padaha, Prabowo, Gerindra, dan PKS, yang begitu ambisius menjadi presiden di Republik ini membutuhkan pertolongan Anies agar dipercaya publik. (*)

 

Oleh Krista Riyanto