Friday, December 14, 2018
Home > Headline > Amien Rais Tuding Joko Widodo “Ngibul”, Siapa Lebih Dipercaya Rakyat?
HeadlinePolitik

Amien Rais Tuding Joko Widodo “Ngibul”, Siapa Lebih Dipercaya Rakyat?

PEMBAGIAN sertifikat yang dilancarkan oleh Presiden Joko Widodo mendapat kecaman dari pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais. Amien menuding program sertifikat gratis pemerintahan Joko Widodo hanya “pengibulan” alias bohong belaka!

Entah apa alasan Amien berpikir kritis demikian. Amien tidak menggunakan data untuk mengecam sertifikasi tanah oleh rezim Joko Widodo yang sudah mencapai jutaan lembar ini.

Jika menggunakan analogi bahwa Jokowi sapaan akrab Joko Widodo bohong dengan sertifikasi ini, berarti produk sertifikat yang diterima rakyat di pelosok negeri ini juga bohong? Lebih ekstrem lagi, sertifikat itu asli tapi palsu!

Lalu jutaan orang Indonesia menjadi korban kebohongan Jokowi! Apakah benar demikian?

Secara politis, kecaman Amien kepada Jokowi adalah siasat politiknya untuk menggerus nama baik Jokowi, namun dia lupa bahwa siasat yang dilancarkan tanpa data itu akan menjadi senjata makan tuan.

Dengan mengecam dan melebeli Jokowi sebagai pembohong, Amien berharap bisa menggerus citra Jokowi, sehingga ter-down grade pada pemilihan presiden 2019 sekaligus menghancurkan PDI Perjuangan sebagai rahimnya Jokowi.

Setelah citra Jokowi jatuh, Amien tentu berharap mendapat kepercayaan dari rakyat, sehingga popularitasnya bagus buat mengerek partainya, PAN tahun depan.

Amien lupa bahwa zaman keemasannya sudah berlalu. Zaman keemasan tidak mungkin bisa diputar lagi pada masa sekarang dan depan. Zaman keemasan Amien adalah sampai pada 2004, atau enam tahun setelah 1998 yang memoncerkan namanya di panggung politik.

Pada 1998, nama Amien naik sangat tinggi, karena waktu itu dia mendapat dukungan sangat besar menjadi king maker dengan membentuk poros tengah yang mengatarkan Abdurrachman Wahid sebagai presiden mengalahkan Megawati Soekarnoputri pada pemilihan di DPR 1999.

Namun, Amien juga lah yang melengserkan Gus Dur ketika dia menjadi Ketua MPR.

Dengan kemoncerannya ini, Amien mencalonkan diri menjadi presiden pada 2004. Tapi, suara Amien yang berpasangan dengan Siswono Yudho Husodo hanya dapat 17.392.931 atau 14,66 persen, di bawah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla 39.838.184 atau 33,57 persen, Mgawati-Hasyim Muzadi 31,569.104 atau 26,61 persen, dan Wiranto-Gus Sholah 26.286.788 atau 22,15 persen.

Artinya, ketika Amien dalam masa keemasan, tingkat kepercayaan rakyat kepadanya pun tidak kuat-kuat amat. Jika tingkat kepercayaan rakyat sangat kuat maka waktu itu dia pasti menjadi presiden, karena dia satu-satunya calon presiden yang mewakili kekuatan Islam sekaligus punya posisi terhormat sebagai Ketua MPR.

Jika kemudian sekarang Amien mengecam Jokowi sebagai pembohong, maka publik bisa menebak hanya sebagai manuvernya untuk menggerus citra Jokowi sebagai figur yang sedang di atas.

Amien tahu bahwa dengan menyerang Jokowi dari segala sudut, dia berharap akan meraih simpati publik yang selama ini “bermusuhan” dengan Jokowi. Amien ingin membendung suara publik agar tidak lari dari PAN, misalnya lari ke PKS atau Partai Gerindra yang juga amat gencar menyerang Jokowi.

Amien lupa bahwa dengan menyerang Jokowi dengan sertifikat bohong ini justeru akan membuat rakyat penerima sertifikat kecewa. Rakyat yang menerima sertifikat bisa saja berpikir bahwa Amien sedang membenci Jokowi secara membabi buta. (*)

 

Oleh: Krista Riyanto

 

Tinggalkan Komentar